Hidup Yang Tidak Menjadi Batu Sandungan
Menjadi orang percaya bukan hanya soal menerima anugerah Allah, tetapi tentang bagaimana kita dipilih untuk hidup sebagai orang-orang yang sudah diselamatkan melalui cara hidup yang benar. Kita dipilih bukan hanya untuk diberkati, tetapi juga untuk menjadi berkat dengan tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain, sebagaimana dijelaskan dalam ayat 23 “ Jangan membuat orang tersandung…”. Ayat ini berisi nasehat Paulus kepada jemaat Korintus yang telah dewasa dalam iman agar mereka tidak membuat saudara seiman, baik orang Yahudi maupun orang Yunani jatuh dalam dosa karena ikut makan makanan yang dipersembahkan kepada dewa, sebab hal itu menentang Allah (ay.20). Hidup sebagai orang percaya tidak boleh menjadi “batu sandungan” bagi sesama. Hal ini dapat diwujudkan, misalnya, dengan menjaga cara berbicara, cara bersikap, dan tidak mengajak orang lain melakukan hal-hal yang tidak benar, seperti perilaku yang merugikan orang lain atau bertentangan dengan firman Tuhan ( okultisme, mabuk, narkoba, selingkuh, judi online, penipuan, pencurian, dll). Tidak menjadi “batu sandungan” alah sikap memuliakan Tuhan.
Roh Kudus tuntun kami supaya tidak menjadi batu sandungan bagi sesama. Amin.


