Sejarah Jemaat
Sejarah kekristenan di Negeri Amahusu, tidak dapat dipisahkan dengan masuknya Bangsa Portugis Indonesia, khususnya di Maluku sekitar abad XVI Masehi. Perkembangan dimulai setelah armada kerajaan Islam dari Jawa dikalahkan oleh armada Portugis yang dikirim oleh Antonio Galvao, seorang panglima Portugis di Ternate pada tahun 1538. Setelah kemenangan ini beberapa kampung di Pulau Ambon mencari perlindungan kepada orang-orang Portugis dan bersedia menerima agama Kristen yang ditawarkan oleh para misionaris. Mula-mula tiga negeri Hatiwe, Amantelu dan Nusaniwe, kemudian diikuti oleh empat negeri di pantai Jazirah Leitimur Selatan yakni Amahusu, Erie, Seilale dan Namalatu. Ketujuh negeri ini tercatat sebagai penerima Injil pertama dan penduduknya dibaptis pada tahun 1538. Jadi negeri Amahusu menerima Injil pada tahun itu, tetapi bulan dan tanggal belum diketahui secara pasti. Perkembangan kekristenan di Amahusu selanjutnya, belum diketahui secara rinci. Hal yang cukup membantu ialah jemaat ini sering dikunjungi oleh para misionaris termasuk Fransiskus Xaverius, tahun 1546-1547. Dalam perjalanan perkunjungan mereka ke Jemaat-jemaat di Leitimur baik yang terdapat di pesisir maupun di daerah pegunungan, pasti akan melewati jemaat Amahusu. Pada waktu singgah itulah mereka telah mempergunakannya untuk melayani jemaat. Pada masa Fransiskus Xaverius, beberapa mata rumah dari Soa Wakang dibaptis dan diganti nama-nama mereka sesuai nama Portugis. Sebagai contoh mata rumah Silooy dan da Costa. Perkembangan gereja di Maluku Tengah di masa VOC (1605-1799) dialami pula oleh jemaat Amahusu, ternyata tidak berlangsung seterusnya. Pada dua dekade terakhir abad XVIII mulai terjadi tanda-tanda kemunduran. Kemunduran yang dialami oleh VOC memuncak pada pembubarannya tanggal 31 Desember 1799, mempunyai pengaruh langsung terhadap perkembangan gereja yang mengandalkan kontribusi tenaga pekerja gereja dan dana dari badan dagang itu. Walaupun demikian jemaat-jemaat di Maluku Tengah termasuk jemaat Amahusu tetap eksis karena ditopang oleh tenaga-tenaga gereja setempat, yakni guru sekolah yang merangkap sebagai guru jemaat, tokoh-tokoh masyarakat dan tokoh-tokoh adat. Tidak kalah pentingnya ialah komitmen kuat yang diperlihatkan oleh anggota jemaat untuk tetap setia terhadap iman kristiani mereka. Pada masa Pemerintahan Hindia Belanda (1800-1935), setelah mengambil alih kekuasaan dari Inggris pada tahun 1815, Raja Belanda Willem I, berkeinginan kuat untuk menyatukan jemaat-jemaat warisan VOC dalam satu wadah gerejawi. Untuk itu Raja membentuk wadah dimaksud dengan nama Indische Kerk atau Gereja Protestan di Indonesia (GPI). Demi peningkatan pelayanan dan pembinaan terhadap jemaat-jemaat di Maluku khususnya, pemerintah Belanda mengadakan kerjasama dengan badan zending Nederlands Zendeling Genootschap (NZG: Perhimpunan Para Pekabar Injil Belanda). Tenaga-tenaga pertama yang dikirim antara lain Josep Kam yang ditempatkan di Maluku dengan basis pelayanan di Kota Ambon. Sama seperti halnya dengan jemaat-jemaat di pulau Ambon pada masa GPI, terutama di masa Joseph Kam, Jemaat Amahusu cukup mendapat perhatian dalam pelayanan. Dalam setiap perkunjungan ke jemaat ini, beliau melayankan sakramen (Baptisan dan Perjamuan Kudus), membenahi administrasi jemaat, dan sekolah. Juga pada kesempatan itu dilakukan pemberkatan nikah gereja terhadap pasangan-pasangan yang sudah menikah adat dan menggalakkan ibadah-ibadah di dalam jemaat seperti kebangunan rohani, penelaahan Alkitab dan kelompok doa untuk menunjang kegiatan pekabaran Injil. Untuk lebih menggalakkan kegiatan-kegitan kejemaatan, atas bantuan Joseph Kam dibangun sebuah gedung gereja baru di Amahusu pada tahun 1822. Pada saat itu, di Maluku Tengah, hampir semua negeri telah memiliki Sekolah Dasar (2 atau 3 tahun), termasuk Amahusu. Dalam perkunjungan Joseph Kam pada tahun 1845, sekolah di Amahusu dipimpin oleh guru L. J. Nanlohij, dengan murid tercatat 94 orang. Guru Nanlohij bukan saja bekerja di sekolah tetapi juga di jemaat dan memimpin ibadah pada hari Minggu. Di masa kepemimpinannya terdapat sebanyak 443 anggota jemaat Amahusu yang terdiri dari anggota sidi 111 orang, yang belum sidi 158 orang, anak sekolah 96 orang dan anak kecil sebanyak 78 orang (Chr.de jong : 606). Selanjutnya ketika tahun 1935 terbentuk Gereja Protestan Maluku (GPM) secara Mandiri, Jemaat Amahusu termasuk di dalamnya, dan berkembang dan bertumbuh sampai sekarang.
Sejarah Gereja
Sejarah kekristenan di Negeri Amahusu, tidak dapat dipisahkan dengan masuknya Bangsa Portugis Indonesia, khususnya di Maluku sekitar abad XVI Masehi. Perkembangan dimulai setelah armada kerajaan Islam dari Jawa dikalahkan oleh armada Portugis yang dikirim oleh Antonio Galvao, seorang panglima Portugis di Ternate pada tahun 1538. Setelah kemenangan ini beberapa kampung di Pulau Ambon mencari perlindungan kepada orang-orang Portugis dan bersedia menerima agama Kristen yang ditawarkan oleh para misionaris. Mula-mula tiga negeri Hatiwe, Amantelu dan Nusaniwe, kemudian diikuti oleh empat negeri di pantai Jazirah Leitimur Selatan yakni Amahusu, Erie, Seilale dan Namalatu. Ketujuh negeri ini tercatat sebagai penerima Injil pertama dan penduduknya dibaptis pada tahun 1538. Jadi negeri Amahusu menerima Injil pada tahun itu, tetapi bulan dan tanggal belum diketahui secara pasti. Perkembangan kekristenan di Amahusu selanjutnya, belum diketahui secara rinci. Hal yang cukup membantu ialah jemaat ini sering dikunjungi oleh para misionaris termasuk Fransiskus Xaverius, tahun 1546-1547. Dalam perjalanan perkunjungan mereka ke Jemaat-jemaat di Leitimur baik yang terdapat di pesisir maupun di daerah pegunungan, pasti akan melewati jemaat Amahusu. Pada waktu singgah itulah mereka telah mempergunakannya untuk melayani jemaat. Pada masa Fransiskus Xaverius, beberapa mata rumah dari Soa Wakang dibaptis dan diganti nama-nama mereka sesuai nama Portugis. Sebagai contoh mata rumah Silooy dan da Costa. Perkembangan gereja di Maluku Tengah di masa VOC (1605-1799) dialami pula oleh jemaat Amahusu, ternyata tidak berlangsung seterusnya. Pada dua dekade terakhir abad XVIII mulai terjadi tanda-tanda kemunduran. Kemunduran yang dialami oleh VOC memuncak pada pembubarannya tanggal 31 Desember 1799, mempunyai pengaruh langsung terhadap perkembangan gereja yang mengandalkan kontribusi tenaga pekerja gereja dan dana dari badan dagang itu. Walaupun demikian jemaat-jemaat di Maluku Tengah termasuk jemaat Amahusu tetap eksis karena ditopang oleh tenaga-tenaga gereja setempat, yakni guru sekolah yang merangkap sebagai guru jemaat, tokoh-tokoh masyarakat dan tokoh-tokoh adat. Tidak kalah pentingnya ialah komitmen kuat yang diperlihatkan oleh anggota jemaat untuk tetap setia terhadap iman kristiani mereka. Pada masa Pemerintahan Hindia Belanda (1800-1935), setelah mengambil alih kekuasaan dari Inggris pada tahun 1815, Raja Belanda Willem I, berkeinginan kuat untuk menyatukan jemaat-jemaat warisan VOC dalam satu wadah gerejawi. Untuk itu Raja membentuk wadah dimaksud dengan nama Indische Kerk atau Gereja Protestan di Indonesia (GPI). Demi peningkatan pelayanan dan pembinaan terhadap jemaat-jemaat di Maluku khususnya, pemerintah Belanda mengadakan kerjasama dengan badan zending Nederlands Zendeling Genootschap (NZG: Perhimpunan Para Pekabar Injil Belanda). Tenaga-tenaga pertama yang dikirim antara lain Josep Kam yang ditempatkan di Maluku dengan basis pelayanan di Kota Ambon. Sama seperti halnya dengan jemaat-jemaat di pulau Ambon pada masa GPI, terutama di masa Joseph Kam, Jemaat Amahusu cukup mendapat perhatian dalam pelayanan. Dalam setiap perkunjungan ke jemaat ini, beliau melayankan sakramen (Baptisan dan Perjamuan Kudus), membenahi administrasi jemaat, dan sekolah. Juga pada kesempatan itu dilakukan pemberkatan nikah gereja terhadap pasangan-pasangan yang sudah menikah adat dan menggalakkan ibadah-ibadah di dalam jemaat seperti kebangunan rohani, penelaahan Alkitab dan kelompok doa untuk menunjang kegiatan pekabaran Injil. Untuk lebih menggalakkan kegiatan-kegitan kejemaatan, atas bantuan Joseph Kam dibangun sebuah gedung gereja baru di Amahusu pada tahun 1822. Pada saat itu, di Maluku Tengah, hampir semua negeri telah memiliki Sekolah Dasar (2 atau 3 tahun), termasuk Amahusu. Dalam perkunjungan Joseph Kam pada tahun 1845, sekolah di Amahusu dipimpin oleh guru L. J. Nanlohij, dengan murid tercatat 94 orang. Guru Nanlohij bukan saja bekerja di sekolah tetapi juga di jemaat dan memimpin ibadah pada hari Minggu. Di masa kepemimpinannya terdapat sebanyak 443 anggota jemaat Amahusu yang terdiri dari anggota sidi 111 orang, yang belum sidi 158 orang, anak sekolah 96 orang dan anak kecil sebanyak 78 orang (Chr.de jong : 606). Selanjutnya ketika tahun 1935 terbentuk Gereja Protestan Maluku (GPM) secara Mandiri, Jemaat Amahusu termasuk di dalamnya, dan berkembang dan bertumbuh sampai sekarang.

